Sejarah Peradaban Yunani Dengan Para Pemikirnya
Doc. Pexels - Sejarah Peradaban Yunani

Sejarah Peradaban Yunani Dengan Para Pemikirnya

Sejarah Yunani – Dalam peradaban di dunia ini, peradaban Yunani menjadi sorotan utama dalam sejarah peradaban perkembangan keilmuan dan kehidupan manusia.

Sudah banyak sumbangsihnya terhadap keilmuan, mulai dari filsafat, kenegaraan, hukum, drama, seni dan lain sebagainya.

Sejarah Yunani Kuno

Sebelum datang munculnya Islam di dunia Timur (Jazirah Arab), bangsa Yunani sudah mempunyai keilmuan tersendiri, dan banyak sekali buku-buku yang dipelajari oleh umat Muslim dan juga bangsa Barat (Eropa).

Dalam perkembangan peradaban Yunani banyak terjadi kejadian-kejadian yang dipertentangkan oleh pemimpin atau raja pada saat itu, karena tidak mematuhi segala yang sudah menjadi aturan yang dikeluarkan oleh kerajaan dan juga gereja.

Sejarah Zaman dan para pemikir Yunani kuno

Pada awal pemikiran Yunani, yaitu dengan cara berpikir yang rasional dalam kehidupan yang dijalankan sesuai dengan akal budi manusia pada saat itu.

Beberapa tokoh-tokoh pemikir itu pun ada yang dipenjara karena tidak mentaati peraturan dan perintah raja.

Karena pada saat itu raja adalah seseorang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menjalankan kekuasaan suatu negara dan mempunyai hubungan yang khusus, dan juga menerima pesan-pesan langsung dari Tuhan untuk seluruh umat nya.

Zaman Kosmolog

Pada saat itu (624 SM–548 SM) tokoh-tokoh pemikir filsafat memulai memikirkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini sesuai dengan akal budi, tidak semata-mata hanya mendengarkan dari perintah sang raja dan juga gereja.

Pada tahun ini filsafat Ionia bermula, memikirkan bagaimana cara alam yang terjadi dalam membentuk alam seperti yang ada.

Salah satu pemikir yang merevolusikan pemikiran adalah Thales.

Thales (624-548 SM)

ia memikirkan untuk menghilangkan para dewa dari penjelasannya tentang asal-usul alam dan memikirkan cara kerja alam yang dapat dijelaskan secara alamiah yang berhubungan dengan semua benda.

Dalam pemikirannya juga Thales menghilangkan hubungan dengan kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut oleh yaitu memutuskan hubungan gejala alam yang terjadi dengan para dewa yang menjadi kepercayaan masyarakat Yunani pada waktu itu.

Oleh karena itu dia memikirkan dan menawarkan pemikirannya yang naturalistik dengan segala kejadian yang ada dialam pasti terjadi bukan dari ruang kosong, tetapi ada sabab musababnya.

Pythagoras (580-507 SM)

Dengan menghubungkan keteraturan hubungan alam yang matematis, bahwa mereka menyimpulakan kosmos juga mengandung suatu keteraturan matematis, yaitu dengan bergesernya pemikiran dari dunia indrawi menjadi ke logika matematika.

Paramindes (515-450 SM)

Dia menerapkan logika ke argumen filosofis yang digunakan oleh kaum Pythagorean di dalam pemikirannya yang matematis.

Dengan menyatakan bahwa suatu argumen harus konsisten dengan tidak ada kontradiksi-kontradiksi.

Dengan demikian memberikan sumbangsih kepada alam suatu fondasi rasional ketimbang mistis, dan dengan menganggap teori-teori itu harus disandarkan pada bukti dan bahwa orang harus mampu mempertahankannya.

para filsuf Yunani mula-mula mendorong pemikiran ke arah yang baru.

Sistematis pengetahuan ini diperluas ke dalam beberapa wilayah dan mengorganisir pengalaman praktis.

Zaman Kaum Sofis

Para pemikir Yunani pada waktu itu beralih dari dunia alamiah dan mengusahakan suatu penyelidikan rasional terhadap manusia dan masyarakat.

Kaum Sofis mencontohkan peralihan fokus ini.

Mereka adalah guru-guru profesional yang berkelana dari satu kota ke kota lainnya mengajarkan retorika, tata bahasa, puisi, olahraga senam, matematika, dan musik.

Kaum Sofis menegaskan bahwa berspekulasi tentang prinsip-prinsip utama alam semesta adalah sia-sia.

Kaum Sofis menjawab kebutuhan praktis di Athena, yang telah berubah menjadi negara imperial yang makmur dan dinamis setelah Perang Persia.

Kaum Sofis menelaah masalah-masalah politis dan etis, yang mengolah pikiran murid-murid mereka dan menciptakan pendidikan sekuler formal.

Sebagian kaum Sofis mengajarkan bahwa sperkulasi tentang dewa-dewi adalah hal yang sia-sia.

Sebgaian kaum Sofis memperdebatkan bahwa hukum hanyalah sesuatu yang dibuat oleh para warga negara yang paling kuat untuk keuntungan diri sendiri.

Pandangan ini berbahaya karena karena hukum tidak mempunyai integritas dan tidak bersandar pada prinsip yang lebih tinggi, tidak dapat dipatuhi.

Doktrin mereka mendorong ketidakpatuhan terhadap hukum, mengabaikan tugas negara, dan menganut individualisme yang mementingkan diri sendiri.

Sokrates (469-399 SM)

salah satu tokoh yang menyerang relativisme pemikiran kaum Sofis, memandang bahwa manusia harus mengatur perilaku mereka sesuai dengan hukum-hukum universal.

Perhatian utama Sokrates adalah penyempurnaan watak manusia individual, pencapaian keunggulan moral.

Bagi Sokrates pendidikan sejati pembentukan karakter menurut nilai-nilai yang ditemukan melalui penggunaan akal budi yang aktif dan kritis.

Plato (429-347 SM)

Plato dengan menggunakan ajaran-ajaran dari guru nya untuk meciptakan suatu sistem filsafat yang merangkum baik dunia alamiah maupun dunia sosial.

Teori ide-ide Sokrates dengan mengajarkan bahwa standar-standar universal kebaikan dan keadilan itu ada dan hal ini dicapai melalui pemikiran.

Dari pemikiran-pemikiran terdahulu lahir suatu sintesis pemikiran Yunani.

Aristoteles (384-322 SM)

 Aristoteles berdiri pada puncak nya yaitu sintesis kreatif pengetahuan dan teori-teori dari para pemikiran terdahulu.

Aristoteles melakukan pemikiran sistematis dari pemikiran terdahulu dai Pra-Sokrates, Sokrates, dan Plato.

Dengan menggunakan pemikiran filsafat nya Pra-Sokrates, Sokrates dan Plato dia berhasrat untuk memahami alam semesta jasmaniah dengan menggunakan akal budi piranti yang tertinggi dan bahwa polis adalah lembaga pembentuk utama kehidupan Yunani.

Zaman Hellenistik

Alexander Agung (336-323 SM)

 Setelah kematian Philip dari Mekodania pada 336 SM, Putera nya yang berusia dua puluh,  Alexander Agung menaiki takhta, mewarisi keangkuhan dan watak berapi-api dari ibunya.

Tidak diragukan lagi, Alexander muda dikorbankan oleh pahlawan-pahlawan legendaris.

Alexander mendapat kemampuan militer dan kualitas-kualitas kepemimpinan dari ayahnya.

Dunia setelah Alexander berbeda penaklukan-penaklukan yang membawa Barat dan Timur menjadi dekat menandai epos baru.

Meskipun Alexander tidak pernah mempersatukan semua bangsa di dalam suatu negara dunia, karirnya mendorong dunia ke suatu arah baru, menuju penggabungan bangsa-bangsa yang berlainan dan percampurbauran tradisi-tradisi budaya.

Baca Juga : Sejarah Pantun dan contoh pantun teka-teki

Sejarah Prestasi Yunani

Pemikiran Barat dengan bangsa Yunani, yang pertama kali mendefinisikan individu dengan kemampuannya untuk akal budi.

Setiap aspek peradaban Yunani menunjukan suatu pangandalan yang semakin bertumbuh pada akal budi manusia dan ketergantungan yang semakin menyusut pada dewa-dewi dan pemikiran mitis.

Kontras, bangsa Yunani menciptakan kemerdekaan politis.

Mereka melihat negara suatu komunitas dari para warga negara yang bebas yang membuat hukum-hukum demi kepentingan mereka sendiri.

Para pemikir politis Yunani tiba pada suatu konsepsi negara yang rasional atau legal.

Dalam aspek humanis bangsa Yunani, dari sikap kesadaran akan kehidupannya yang mendasari segala prestasi bangsa Yunani ialah sikap humanis terhadap kehidupan.

Bangsa Yunani mengungkapkan suatu kepercayaan pada nilai, arti dan martabat manusia, pengembangan penuh kepribadian manusia, dan pengajaran pendidikan yang unggul.

Dan juga dalam menilai kehidupan manusia, para Humanis Yunani menciptakan suatu tipe manusia yang lebih tinggi.

Search Engine : Sejarah Peradaban Yunani

Dari penulis pemikir hukum : Wisnudwia

Leave a Reply

Close Menu